Loading the player ...

Pemilu yang Lebih Berkualitas

KOMISI Pemilihan Umum (KPU) akhirnya menetapkan hanya 10 partai politik (parpol) yang lolos verifikasi faktual. Artinya, cuma 10 parpol itu yang kelak menjadi peserta Pemilu Legislatif 2014. Ke-10 parpol itu ialah Partai Demokrat, Golkar, PDIP, PKS, PAN, PPP, PKB, Gerindra, Hanura, dan Partai NasDem. Sembilan di antaranya merupakan parpol yang mendapat kursi di parlemen, dan hanya satu parpol baru, yakni Partai NasDem. Keputusan KPU itu menuai pro-kontra. Meski demikian, kita berharap semua pihak dapat bersikap arif terkait dengan keputusan KPU itu. Parpol yang lolos verifikasi tidak perlu jemawa, sedangkan parpol yang tidak lolos dapat menerima keputusan KPU itu dengan sikap lebih legawa. Terhadap parpol yang tidak lolos, kita dapat memahami dan menghargai kekecewaan mereka atas hasil verifikasi tersebut. Namun, senyatanya, jalan untuk menjadi peserta Pemilu 2014 belum sepenuhnya tertutup. Ada opsi yang dapat ditempuh parpol yang gagal lolos verifikasi. Yang paling realistis ialah bergabung dengan parpol yang lolos sebagai peserta pemilu. Opsi lainnya ialah menggugat keputusan KPU itu melalui jalur hukum. Terlepas dari pro-kontra atas keputusan KPU, kita ingin mendorong semua pihak untuk tetap menjaga dinamika politik sehingga kesehatan dan ketahanan demokrasi di negeri ini tetap dapat dikelola dengan lebih baik lagi. Dari kacamata publik, sesungguhnya keputusan KPU hanya meloloskan 10 parpol sebagai peserta Pemilu 2014 telah membuka jalan bagi berlangsungnya pemilu legislatif yang lebih berkualitas. Lebih berkualitas karena dengan hanya diikuti 10 parpol, Pemilu 2014 berpotensi untuk berjalan lebih efisien dan lebih efektif, baik dari segi waktu maupun biaya, ketimbang pemilu sebelumnya. Bandingkan dengan Pemilu 1999 yang diikuti 48 parpol, Pemilu 2004 dengan 24 parpol, atau Pemilu 2009 sebanyak 34 parpol. Dengan jumlah parpol peserta yang lebih sedikit, kertas surat suara pemilu yang dicetak juga akan jauh lebih kecil dan tentu saja akan berdampak pada pengurangan ongkos sekaligus potensi konflik. Bagi pemilih, sedikitnya parpol peserta pemilu akan memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi partai-partai itu secara lebih baik lagi. Potensi suara pemilih yang hangus pun bisa diminimalisasi. Kita sesungguhnya juga merindukan proses penyederhanaan pascapemilu terkait dengan jumlah fraksi di parlemen. Jauh lebih sederhana bila kelak jumlah fraksi di DPR, yang saat ini sembilan, dapat dikurangi berdasarkan peningkatan angka parliamentary threshold. Dengan demikian, pengambilan keputusan pun dapat berlangsung lebih efisien, lebih sedikit kegaduhan, tanpa harus mengurangi kualitas keterwakilan. Kita berharap penetapan KPU atas jumlah peserta pemilu yang jauh lebih sedikit itu ditindaklanjuti dengan kinerja penyelenggaraan Pemilu 2014 yang lebih baik jika dibandingkan dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Kita sudah lama merindukan pemilu yang lebih sederhana, lebih berkualitas, dan lebih sedikit menghadirkan kegaduhan.

2013-1-9 wib