Loading the player ...

Ancaman Anas

ANAS Urbaningrum bukan sembarang tersangka. Setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Ketua Umum DPP Partai Demokrat itu sebagai tersangka pada Jumat (22/2), rumahnya di Duren Sawit, Jakarta Timur, bagai aula tempat reuni berbagai tokoh.

Silih berganti para tokoh, politikus lintas partai, dan aktivis datang ke rumah Anas. Dari Partai Golkar ada Akbar Tandjung dan Priyo Budi Santoso. Dari Hanura ada Yudi Chrisnandi. Dari PAN ada Viva Yoga Mauladi. Ada pula yang nonpartai seperti Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD dan mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Anwar Nasution. Masih banyak yang lain.

Anas menjadi istimewa karena sebelumnya KPK juga menetapkan tersangka lain, yakni Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alifian Mallarangeng. Akan tetapi, sejauh yang direkam pers, tidak ada hiruk pikuk di kediaman Andi seperti halnya di rumah Anas.

Keistimewaan lain ialah pernyataan Anas bahwa apa yang terjadi di Partai Demokrat, apa yang terjadi dengan dirinya, barulah awal, barulah permulaan, barulah halaman pertama dari lembaran-lembaran buku yang kelak akan dibuka dan dibaca.

Pernyataan itu menuai spekulasi dan tafsir politik yang riuh. Tafsir yang paling dominan ialah Anas membaca buku berjudul 'korupsi'. Publik menafsirkan Anas mengancam membuka borok-borok korupsi yang diketahuinya.

Karena itu, kita sepenuhnya mendorong Anas agar membuka halaman demi halamannya, membuka semua yang diketahuinya tentang aneka praktik miring yang merugikan bangsa dan negara ini.

Siapa pun yang berkomitmen dengan pemberantasan korupsi, siapa pun yang berkomitmen mencintai bangsa dan negara ini, perlu mendorong Anas agar membuka segala aib yang diketahuinya yang mencoreng bangsa ini.

Kita, juga para tokoh yang hadir di rumah Anas, semestinya menguatkan Anas. Anas harus berani 'bernyanyi' meski menyinggung kekuasaan. Anas bahkan harus rela mengorbankan dirinya demi masa depan bangsa ini.

Selama 2,5 tahun menjadi ketua umum partai penguasa, kita percaya Anas memiliki banyak informasi penting. Kita sangat percaya Anas mengetahui banyak lorong gelap yang tidak diketahui publik. Karena itu, Anas perlu memberi tahu khalayak tentang seluruh lika-liku itu.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Anas tahu segala ihwal terkait dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 2004 karena dia mantan komisioner penyelenggara pemilu itu sebelum hijrah ke Partai Demokrat. Anas bahkan juga diduga memiliki informasi penting tentang seluk-beluk Century.

Namun, yang pertama-tama perlu diungkap Anas ialah terkait dengan perkara yang membelitnya, yakni Hambalang. Anas harus mengungkap bagaimana kisah penggelontoran duit proyek Hambalang dan siapa saja yang berperan serta bertanggung jawab.

Ihwal KPU dan Century, itu berpulang kepada Anas. Toh, kini Anas menjadi orang merdeka dan bebas. Dia tidak lagi memanggul beban politik di pundaknya karena sejak Sabtu (23/2) dia menanggalkan jaket biru Partai Demokrat.

Menjadi orang merdeka dan bebas memang mulia. Namun, jauh lebih mulia jika bersedia membuka borok dengan niat agar sebagai bangsa, kita tidak lagi tersandung di batu yang sama pada masa datang.

2013-2-26 wib