Loading the player ...

Kekerasan di Sekitar Kita

Metrotvnews.com: Kekerasan semakin lama menjadi jalan yang semakin banyak ditempuh sebagian kalangan di negeri ini. Dengan kekerasan, sebagian masyarakat kini percaya bahwa mereka dapat menyelesaikan persoalan. Dengan kekerasan pula, mereka telah menganggap persoalan jauh lebih dapat dituntaskan jika dibandingkan dengan jalan lain lebih beradab yang semestinya dapat ditempuh. Jalan berpikir seperti itulah yang agaknya juga dipercaya sebagian warga Dolok Saribu, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara, ketika mereka menganiaya Kapolsek Dolok Pardaeman AK Andar Siahaan hingga tewas. Andar mengalami nasib nahas saat hendak mengungkap kasus perjudian di desa itu, Rabu (27/3). Malang, bukannya membantu Andar dan tiga anak buahnya untuk menangkap pelaku perjudian, warga setempat malah menganiayanya hingga tewas. Dalam peristiwa itu, warga lepas kendali lantaran terprovokasi bahwa Andar dan tiga bawahannya ialah pencuri. Pengakuan bahwa ia merupakan polisi yang tengah melakukan tugas dianggap angin lalu. Kita prihatin dengan tewasnya Andar. Dukacita tentu kita sampaikan kepada keluarga yang ditinggalkan Andar. Lebih memprihatinkan lagi, kasus kekerasan seperti itu belakangan terus bermunculan di negeri ini. Belakangan kita semakin sering menyaksikan munculnya aksi yang lebih mengedepankan kekerasan dalam menyelesaikan konflik, sengketa, dan pertikaian daripada proses hukum. Karena itu, kita pun harus berduka karena semakin banyak kalangan di negeri ini yang lebih percaya bahwa kekerasan lebih ampuh untuk menyelesaikan persoalan.  Bukan hanya kasus di Dolok, contoh lain kasus seperti itu pun sudah semakin banyak kita temukan. Sebut saja kasus penyerangan sekelompok anggota TNI ke Polres Ogan Komering Ulu (OKU). Yang terakhir, kasus penyerbuan LP Cebongan, Sleman, Yogyakarta, oleh gerombolan bersenjata. Kasus penyerangan Polres OKU oleh aparat dan penyerbuan LP Cebongan yang diduga dilakukan aparat sungguh merupakan contoh kekerasan teramat buruk bagi rakyat. Artinya, rakyat meniru kekerasan yang dilakukan aparat atau negara. Dengan perkataan lain, kekerasan negara menular ke masyarakat. Bukankah sesungguhnya hanya aparat keamanan yang diberi kewenangan oleh negara untuk melakukan kekerasan demi tujuan menjaga ketertiban, sedangkan rakyat tidak? Sayangnya, dalam kasus Polres OKU dan LP Cebongan, aparat melakukan kekerasan di luar kewenangan mereka alias melanggar hukum. Oleh karena itu, untuk mengurangi kekerasan di sekitar kita, aparat harus mempertontonkan contoh yang baik. Contoh yang baik itu ialah menyelesaikan setiap perkara sesuai dengan hukum yang berlaku. Dalam kasus Dolok, kita mengimbau aparat kepolisian untuk memerkarakan rakyat yang terlibat pengeroyokan kapolsek secara hukum, bukan dengan dendam membara. Menyelesaikan setiap perkara dengan dendam hanya akan menciptakan lingkaran kekerasan.

2013-3-30 wib