Loading the player ...

Mempersiapkan Indonesia

MENJADI negeri yang merdeka merupakan dambaan setiap bangsa. Begitu juga, menjadi bangsa berperadaban unggul dengan rakyat sejahtera dan terlimpahi keadilan merupakan impian masyarakat di belahan mana pun.

Namun, tak semua bangsa mampu meraih kedua cita-cita ideal tersebut. Ada yang mampu merdeka, tetapi lebih banyak lagi yang belum sanggup meraih obsesi menjadi negara berperadaban dan berkesejahteraan.

Jalan untuk menggandengkan keduanya amat rumit, mendaki, dan sangat licin. Hanya negara-negara bermental baja dan berkarakter tinggilah yang sanggup mewujudkannya.

Mereka, negara-negara berperadaban tinggi dan maju tersebut, telah membuat peta jalan jauh-jauh hari, dengan visi-visi besar yang pada masanya dianggap mengawang-awang, tapi kenyataannya bisa diwujudkan.

Karena itulah, ketika berbagai kalangan menyusun strategi untuk masa depan Indonesia, itu jelas merupakan sumbangan pemikiran yang patut kita apresiasi. Ada yang membuat visi Indonesia 2025, 2030, bahkan Indonesia 2045 atau saat usia kemerdekaan Republik ini satu abad.

Semua itu merupakan bentuk dari keinginan kuat membuat konsepsi-konsepsi sebagaimana diamanatkan proklamator RI Bung Karno. Presiden pertama RI tersebut berkali-kali mengatakan Indonesia adalah bangsa yang berkarakter dan memiliki konsepsi-konsepsi.

Jalan untuk menuju ke arah itu bahkan sudah dimiliki negeri ini. Bukankah dengan produk domestik bruto sebesar US$8.000 yang diraih Indonesia saat ini menjadikan kita sebagai negara dengan peringkat PDB 20 besar dunia? Bukankah pula sejumlah temuan anak bangsa ini sudah diakui berbagai belahan dunia?

Semua itu merupakan modal penting bagi bangsa ini untuk mewujudkan segala visi menjadi negara maju. Namun, syaratnya modal tersebut tidak didiamkan bergerak sendiri serta digerogoti sikap-sikap pragmatisme akut yang kini juga menjalar di hampir segala lini kehidupan bangsa ini.

Virus-virus pragmatis seperti ingin cepat kaya dengan jalan pintas, ingin berkuasa dengan cara apa pun, dan ingin menggemukkan pundi-pundi pribadi dengan jalan korupsi kini teramat mudah ditemui. Keinginan untuk menjadi negara maju yang berperadaban pun sekadar jargon kertas sekelompok kecil anak bangsa.

Di mana-mana, sebuah negara berhasil menjadi bangsa maju ketika ia sudah tuntas membentuk karakter anak bangsanya. Karena itu, di negara-negara maju tingkat korupsi pejabat sangat kecil, kepedulian akan kepentingan publik dan kelestarian lingkungan amat besar, serta perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi sangat tinggi.

Keputusan kini ada di tangan kita sendiri. Jika bangsa ini serius mempersiapkan masa depan, jalan menuju negara maju amat mungkin lebih cepat daripada yang diperkirakan.

2013-8-16 wib