Loading the player ...

Mengungkap Penembakan Polisi

 

KEPOLISIAN Republik Indonesia kini bersiaga penuh.

Pemicunya ialah rentetan penembakan terhadap anggota Polri. Dalam kurun waktu tiga pekan terakhir, empat anggota Polri tewas ditembak.

Pada 27 Juli 2013, anggota Satlantas Polres Jakarta Pusat Aipda Fatah Saktiyono tewas ditembak di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Selang beberapa hari kemudian, tepatnya 7 Agustus 2013 atau sehari menjelang Hari Raya Idul Fitri, anggota Polsek Cilandak Aiptu Dwiyatno meninggal setelah ditembak di kawasan yang sama, di Ciputat, Tangerang Selatan.

Lalu, pada 16 Agustus 2013, atau sehari menjelang peringatan hari ulang tahun ke-68 Kemerdekaan RI, dua anggota Polsek Pondok Aren tewas ditembak di Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten. Mereka ialah Aiptu Koeshendratna dan Bripka Ahmad Maulana.

Untuk sementara, Polri, Badan Intelijen Negara, dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menduga pelaku penembakan ialah teroris.

Dugaan itu boleh jadi benar. Polri melalui Detasemen Khusus 88 Antiteror selama ini memang gencar menumpas terorisme. Teroris tentu menyimpan dendam kepada Polri.

Mereka lantas menjadikan Polri sebagai target balas dendam. Bukan kali ini saja institusi Polri menjadi sasaran serangan teroris. Teroris beberapa kali menyerang polisi yang sedang berpatroli di Poso, Sulawesi Tengah.

Teroris juga beberapa kali menyerang kantor polisi. Terakhir ialah ledakan bom di Polsek Rajapolah, Tasikmalaya, Jawa Barat, Juli 2013.

Namun, dugaan tetaplah dugaan. Untuk memastikannya, Polri tentu harus mengungkap kasus penembakan terhadap anggotanya.

Meski hal itu baru sebatas dugaan, tetap penting bagi Polri untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan. Bentuk kewaspadaan itu, antara lain, anggota Polri diperintahkan tidak sendirian ketika bertugas.

Kesiagaan memang penting untuk mencegah korban berikutnya. Namun, yang terpenting tetaplah mengungkapnya.

Kegagalan atau kelambanan mengungkapnya dapat memunculkan kasus-kasus serupa di masa mendatang. Boleh jadi berulangnya kasus penembakan terhadap anggota Polri disebabkan lambannya Polri mengungkap kasus pertama. Kelambanan atau kegagalan mengungkap suatu modus kejahatan bisa menciptakan tren modus kejahatan tersebut.

Sekali lagi, mengungkap kasus-kasus penembakan terhadap polisi merupakan hal terpenting. Ibarat permainan sepak bola bahwa pertahanan terbaik ialah menyerang, dalam kasus penembakan anggota Polri pencegahan terbaik ialah mengungkap.

 

2013-8-19 wib