Loading the player ...

Teror untuk Polisi Tiada Henti

AKSI teror terhadap aparat kepolisian belum juga berhenti. Nyawa anggota korps Bhayangkara kembali melayang, rasa aman masyarakat pun terguncang.

Teror teranyar terjadi di Jl HR Rasuna Said, persis di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta Selatan, Selasa (10/9) malam. Korbannya Bripka Sukardi, anggota Kesatuan Provos Mabes Polri yang tengah mengawal truk bermuatan bahan konstruksi. Empat tembakan yang dilepaskan pelaku tepat di bagian dada dan perut mengantarkan bapak tiga anak itu kembali ke pangkuan Sang Pencipta.

Insiden yang menyasar Bripka Sukardi menambah panjang deret teror terhadap polisi dalam dua bulan terakhir. Pada 27 Juli 2013, anggota Satlantas Polres Jakarta Pusat Aipda Fatah Saktiyono ditembak di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Lantas, pada 7 Agustus 2013, anggota Polsek Cilandak Aiptu Dwiyatno meregang nyawa ditembus peluru panas, juga di kawasan Ciputat.

Teror pun berlanjut pada 16 Agustus 2013. Tak tanggung-tanggung pelaku membunuh dua anggota Polsek Pondok Aren, Tangerang Selatan, yakni Aiptu Koeshendratna dan Bripka Ahmad Maulana.

Kita prihatin, amat prihatin, teror terhadap polisi terus saja terjadi. Namun, kita lebih prihatin lantaran peristiwa-peristiwa itu masih menjadi misteri, masih gelap tanpa titik terang siapa pelaku apalagi motif yang melatarbelakangi.

Menko Polhukam, Polri, Badan Intelijen Negara, dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme masih sebatas menduga-duga. Mereka menduga pelaku teror ialah kelompok teroris dengan latar belakang dendam. Dendam karena banyak rekan mereka yang ditangkap atau tewas didor Densus 88 Antiteror.

Mencuat pula spekulasi bahwa teror terhadap polisi ialah wujud balas dendam kelompok preman. Malah muncul prasangka bahwa teror tersebut dipantik persaingan bisnis.

Publik tidak peduli apa pun motif yang mendasari rentetan teror terhadap polisi. Publik hanya ingin Polri bisa secepatnya mengungkap kasus-kasus tersebut, membekuk pelakunya untuk kemudian memastikan tidak akan ada lagi teror serupa.

Teror terhadap polisi yang terus berulang merupakan persoalan yang amat serius. Amat serius karena Polri ialah alat negara untuk menegakkan keamanan, menjaga ketertiban, dan melindungi rakyat dari tindak kekerasan.

Bagaimana bisa optimal melindungi rakyat jika untuk melindungi diri sendiri saja mereka tak mampu? Itulah pertanyaan yang mesti selekasnya dijawab institusi Polri. Sesegera mungkin menangkap pelaku yang masih melenggang dan sewaktu-waktu bisa kembali menebar teror ialah jawaban paling pas untuk merespons kegalauan publik.

Tidak gampang memang membongkar kasus yang minim saksi seperti kasus teror terhadap polisi. Akan tetapi, sesulit apa pun, itulah tugas polisi demi melindungi anggota dan memberi rakyat rasa aman.

 

2013-9-12 wib